Pada kajian sebelumnya, telah kita ketahui bersama tentang pentingnya mempelajari keimanan dan pondasi-pondasinya. Pondasi atau rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah. Istilah lain dari iman kepada Allah adalah mentauhidkan Allah. Oleh karena itu, pada kajian kali ini kita akan pelajari bersama apa yang dimaksud dengan iman kepada Allah serta pembagian tauhid kepada Allah.
A. Kedudukan Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah adalah rukun iman yang paling penting, paling agung kedudukannya, dan paling tinggi derajatnya. Bahkan, iman kepada Allah adalah pokok dari seluruh rukun iman, fondasi bangunan keimanan, dan tiang penyangga urusan keimanan. Sementara rukun-rukun iman yang lainnya merupakan cabang dari iman kepada Allah yang semua itu kembali kepadanya dan dibangun di atasnya.
B. Apa Itu Iman Kepada Allah?
Iman kepada Allah adalah mengimani keesaan Allah subḥānahu wata’āla baik dalam rubūbiyyah-Nya, ulūhiyyah-Nya, serta asmā' wa ṣhifāt-Nya. Inilah tiga prinsip yang menjadi landasan iman kepada Allah.
Bahkan, agama Islam yang lurus ini dinamakan “Tauhid” karena dibangun di atas prinsip bahwa Allah itu Esa pada kerajaan dan perbuatan-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Esa pada zat dan nama-nama serta sifat-sifatnya, dan Esa dalam ulūhiyyah-Nya (hak disembah) dan ibadah kepada-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya.
C. Pembagian Tauhid
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa tauhidnya para Nabi dan Rasul itu terbagi menjadi tiga bagian:
- Bagian Pertama: Tauhid Rubūbiyah, yaitu mengakui bahwa Allah subḥānahu wata’āla adalah Tuhannya segala sesuatu, Pemiliknya, Penciptanya, dan Pemberi rezekinya. Dialah Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Memberi manfaat, dan Yang Mendatangkan mudarat. Dialah satu-satunya yang mengabulkan doa dalam keadaan darurat. Dia adalah yang milik-Nya segala urusan, di tangan-Nya segala kebaikan, dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut.
- Bagian Kedua: Tauhid Ulūhiyah, yaitu mengesakan Allah semata dalam ketundukan, kepatuhan, cinta, kekhusyukan, rukuk, sujud, sembelihan, nazar, dan segala jenis ibadah lainnya tanpa ada sekutu bagi-Nya.
- Bagian Ketiga: Tauhid Asmā' wa Ṣhifāt, yaitu mengesakan Allah subḥānahu wata’āla dalam nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Nabi-Nya ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam; menyucikan-Nya dari segala kekurangan, aib, dan keserupaan dengan makhluk dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Serta mengakui bahwa Allah:
- Maha Mengetahui atas segala sesuatu
- Maha Kuasa atas segala sesuatu
- Maha Hidup lagi Terus-menerus Mengurusi makhluk-Nya, yang tidak ditimpa rasa kantuk maupun tidur
- Bagi-Nya kehendak yang pasti terlaksana dan hikmah yang mendalam.
- Maha Mendengar lagi Maha Melihat
- Maha Penyantun lagi Maha Penyayang
- Istiwā' di atas ‘Arsy
- Menguasai atas seluruh kerajaan
- Adalah Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, dan Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
- dan lain sebagainya berupa nama-nama indah dan sifat-sifat mulia lainnya
Setiap bagian dari ketiga bagian ini memiliki banyak dalil dari Al-Quran dan As-Sunah. Seluruh isi Al-Quran berbicara tentang tauhid, hak-haknya, dan balasannya; serta tentang perbuatan syirik, pelakunya, dan balasan bagi mereka.
Ketiga bagian tauhid ini disimpulkan oleh para ulama melalui metode istiqrā' (penelitian mendalam) dan penelusuran terhadap nas-nas Al-Quran dan As-Sunah.
Ini adalah penelitian menyeluruh terhadap nas syariat yang menghasilkan fakta syariat ini, yaitu bahwa tauhid yang dituntut dari para hamba adalah beriman kepada keesaan Allah dalam hal Rubūbiyah, Ulūhiyah, serta Asmā' dan Ṣhifāt-Nya. Barang siapa yang keimanannya tidak memenuhi ketiga hal tersebut, maka ia bukanlah seorang mukmin.
Referensi
- Uṣhūlul-Īmān fi Ḍhauil-Kitābi was-Sunnah oleh Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam - KSA