Tauhid Rububiyyah: Apakah Cukup Hanya Mengakui Allah Sebagai Pencipta?

Mengakui Allah Tetapi Menyembah Berhala

Pada kajian sebelumnya, telah kita pelajari bersama tentang pengertian tauhid rubūbiyyah beserta dalil-dalilnya. Singkatnya, tauhid rubūbiyyah berarti mengakui Allah sebagai satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta. Namun, apakah pengakuan Allah sebagai Pencipta alam semesta sudah cukup untuk meraih rida dan surga-Nya serta selamat dari murka dan azab-Nya? Berikut uraiannya:

A. Konsekuensi Tauhid Rubūbiyyah adalah Tauhid Ulūhiyyah

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tauhid rubūbiyyah adalah salah satu dari tiga jenis tauhid. Oleh karena itu, tidaklah sah iman seseorang dan tidaklah terwujud tauhidnya kecuali jika ia mentauhidkan Allah dalam rubūbiyyah-Nya.

Namun, jenis tauhid ini bukanlah tujuan utama dari diutusnya para Rasul ‘alaihimussalām. Tauhid ini juga tidak menyelamatkan seseorang dari azab Allah selama ia tidak memenuhi konsekuensinya, yaitu tauhid ulūhiyyah (mengesakan Allah dalam ibadah).

B. Kaum Musyrik Mengakui Allah Sang Pencipta Tetapi Menyekutukan-Nya dalam Ibadah

Allah subḥānahu wata’āla berfirman:

وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ١٠٦

Kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka musyrik.

[QS. Yusuf: 106]

Maknanya adalah: sebagian besar dari mereka mengakui Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur yang mana semua itu adalah bagian dari tauhid rubūbiyah. Namun, mereka juga menyekutukan-Nya dalam ibadah dengan menyembah selain-Nya, seperti berhala-berhala yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat, serta tidak dapat memberi maupun menahan.

Mengenai makna ayat ini, telah dijelaskan oleh para ahli tafsir baik dari kalangan sahabat maupun tabiin sebagai berikut:

Ibnu Abbās raḍhiyallāhu ‘anhuma berkata:

مِنْ إِيمَانِهِمْ إِذَا قِيلَ لَهُمْ: مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ، وَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ، وَمَنْ خَلَقَ الْجِبَالَ؟ قَالُوا: اللَّهُ، وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Di antara bentuk iman mereka adalah jika ditanyakan kepada mereka: “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Dan siapa yang menciptakan gunung?” Mereka menjawab: “Allah”, namun mereka tetap musyrik.

‘Ikrimah berkata:

تَسْأَلُهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ، وَمَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ؟ فَيَقُولُونَ: اللَّهُ. فَذَلِكَ إِيمَانُهُمْ بِاللَّهِ، وَهُمْ يَعْبُدُونَ غَيْرَهُ

Engkau bertanya kepada mereka “Siapa yang menciptakan mereka? siapa yang menciptakan langit dan bumi?” Maka mereka menjawab: “Allah”. Itulah iman mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya.

Mujāhid berkata:

إِيمَانُهُمْ قَوْلُهُمْ: اللَّهُ خَالِقُنَا، وَيَرْزُقُنَا وَيُمِيتُنَا. فَهَذَا إِيمَانٌ مَعَ شِرْكِ عِبَادَتِهِمْ غَيْرَهُ

Iman mereka adalah ucapan mereka: “Allah Pencipta kami, yang memberi rezeki kepada kami, dan yang mematikan kami”. Maka ini adalah iman yang disertai kesyirikan ibadah mereka kepada selain-Nya.

Abdurraḥmān bin Zaid bin Aslam berkata:

لَيْسَ أَحَدٌ يَعْبُدُ مَعَ اللَّهِ غَيْرَهُ إِلَّا وَهُوَ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ، وَيَعْرِفُ أَنَّ اللَّهَ رَبُّهُ، وَأَنَّ اللَّهَ خَالِقُهُ وَرَازِقُهُ، وَهُوَ يُشْرِكُ بِهِ، أَلَا تَرَى كَيْفَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ:

Tidak ada seorang pun yang menyembah selain Allah kecuali dia beriman kepada Allah dan mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan-Nya, Penciptanya, dan Pemberi rezekinya, namun ia menyekutukan-Nya. Tidakkah engkau melihat ucapan Ibrahim:

قَالَ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ ٧٥ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ ٧٦ فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٧٧

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah? Kamu dan nenek moyangmu terdahulu? Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.”

[QS. Asy-Syu’arā' (26): 75-77]

Teks-teks dari para salaf yang semakna dengan hal ini sangatlah banyak. Bahkan, orang-orang musyrik pada zaman Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam mengakui Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur. Meskipun demikian, mereka menyekutukan Allah dari sisi ibadah, inilah letak kesyirikan mereka. Mereka menjadikan tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu tersebut sebagai sosok yang mereka sembah, mereka mintai pertolongan, dan mereka sampaikan hajat serta permohonan mereka kepada para sekutu tersebut.

C. Dalil Al-Quran Bahwa Kaum Musyrik Mengakui Allah Sang Pencipta (Rubūbiyyah)

Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang telah menunjukkan pengakuan kaum musyrik terhadap rubūbiyyah Allah bersamaan dengan kesyirikan mereka dalam ibadah. Di antaranya firman Allah ta’āla:

وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٦١

Jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan,” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan?

[QS. Al-‘Ankabūt (29): 61]

وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ مَوۡتِهَا لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۚ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ ٦٣

Jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu dengan (air) itu menghidupkan bumi setelah mati,” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah.” Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mengerti.

[QS. Al-‘Ankabūt (29): 63]

وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٨٧

Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Maka, mengapa mereka bisa dipalingkan?

[QS. Az-Zukhrūf (43): 87]

قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٨٤ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَkَّرُونَ ٨٥ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ٨٦ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٨٧ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٨٨ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ٨٩

84. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya jika kamu mengetahui?”

85. Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu tidak ingat?”

86. Katakanlah, “Siapakah pemilik langit yang tujuh dan pemilik ʻArasy yang agung?”

87. Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu tidak bertakwa?”

88. Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?”

89. Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), bagaimana kamu sampai tertipu?”

[QS. Al-Mu'minūn (23): 84-89]

D. Alasan Kaum Musyrik Menyembah Berhala Meski Mengakui Allah Tuhan Pencipta Alam (Rubūbiyyah)

Jadi, kaum musyrik dahulu tidak meyakini bahwa berhala-berhala itulah yang menurunkan hujan, memberi rezeki kepada alam, atau mengatur urusannya. Sebaliknya, mereka justru meyakini bahwa itu semua hanya bisa dilakukan oleh Allah subḥānahu wata’āla.

Mereka mengakui bahwa berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah adalah makhluk yang tidak memiliki kuasa atas diri mereka sendiri maupun para penyembahnya. Mereka mengakui bahwa berhala-berhala tersebut tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat secara mandiri, tidak menguasai kematian, kehidupan, maupun kebangkitan, serta tidak mendengar dan tidak melihat.

Mereka mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Esa dalam hal tersebut tanpa sekutu bagi-Nya. Mereka meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan selain-Nya adalah makhluk, Allah adalah Tuhan dan selain-Nya adalah yang diatur.

Hanya saja, mereka menjadikan sebagian makhluk-Nya sebagai sekutu dan perantara, yang menurut anggapan mereka dapat memberi syafaat di sisi Allah dan mendekatkan mereka kepada-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ ٱtَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ

Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

[QS. Az-Zumar (39): 3]

Maksud dari ayat ini adalah agar mereka memberi syafaat di sisi Allah dalam hal pertolongan, rezeki, dan urusan dunia yang menimpa mereka.

E. Hanya Mengakui Allah Sebagai Pencipta dan Pengatur Alam Semesta (Tauhid Rubūbiyyah) Tidaklah Cukup

Meskipun ada pengakuan umum dari kaum musyrik terhadap rubūbiyyah Allah, hal itu tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam. Sebaliknya, Allah menghukumi mereka sebagai orang musyrik yang kafir, mengancam mereka dengan neraka dan kekekalan di dalamnya, serta Rasul-Nya ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam menghalalkan darah dan harta mereka karena mereka tidak memenuhi konsekuensi tauhid rubūbiyah, yaitu mentauhidkan Allah dalam ibadah.

Dengan ini jelaslah bahwa mengakui tauhid rubūbiyah saja tanpa melaksanakan konsekuensinya, yaitu tauhid uluhiyah, tidaklah cukup dan tidak menyelamatkan dari azab Allah. Bahkan, hal itu menjadi hujah yang kuat atas manusia yang menuntut pemurnian agama hanya untuk Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan mengharuskan pengesaan Allah dalam ibadah. Maka, jika seseorang tidak memenuhinya, ia adalah kafir yang halal darah dan hartanya.