Khutbah Idul Adha Terbaru: 3 Pelajaran Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail
Oleh : Adam Rizkala
Naskah Khutbah Pertama
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا. يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا
أما بعد: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مَحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah . . .
Hari raya Idul Adha mengingatkan kepada kita tentang kisah dramatis penuh hikmah antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dengan putranya Ismail ‘alaihissalām.
Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa tatkala Nabi Ibrahim pergi meninggalkan Babilonia, beliau sempat berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang saleh. Isi doanya adalah :
رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 100]
Setelah beliau berdoa, maka Allah pun mengabulkan doanya. Allah memberikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran seorang anak yang sangat penyantun, yaitu Ismail. Allah subḥānahu wata’āla berfirman :
فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ
Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 101]
Pada saat Ismail lahir, kondisi Nabi Ibrahim sudah sangat tua. Disebutkan dalam kitab tafsir Ibnu Katṡīr bahwa usia beliau kala itu adalah 86 tahun. Maka sangat wajar, jika Ibrahim sangat mencintai dan menyayangi putranya.
Singkat cerita, jamaah, Ismail pun mulai tumbuh menginjak usia remaja. Pada usia tersebut, Ismail sudah memiliki kesanggupan untuk melakukan usaha dan pekerjaan seperti ayahnya. Pada usia remaja inilah umumnya seorang anak mulai dibanggakan oleh ayahnya.
Hingga pada suatu ketika, ayahnya, yakni Nabi Ibrahim ‘alaihissalām bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām melihat dirinya menyembelih putranya, Ismail. Tentu mimpi ini bukanlah sembarang mimpi. Akan tetapi, mimpinya para Nabi adalah perintah dari Allah.
Bisa dibayangkan, jamaah, bagaimana perasaan Nabi Ibrahim kala itu, betapa beratnya perintah yang Allah berikan kepadanya. Baru saja ia dikaruniai seorang putra di usia yang cukup renta, bahkan baru saja putranya menginjak usia remaja, namun ia harus rela kehilangan putranya demi menuruti perintah Allah.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah . . .
Meskipun perintah itu cukup berat, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām justru lebih mengedepankan keimanannya dan kepatuhannya kepada Allah dibandingkan logika dan hawa nafsunya. Maka, dengan penuh keteguhan hati, Nabi Ibrahim pun mulai mengutarakan perihal mimpi itu kepada putranya. Ia berkata:
يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 102]
Lalu Ismail menjawab :
يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 102]
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah . . .
Lihatlah betapa mengagumkannya sosok ayah bernama Ibrahim dan sosok anak bernama Ismail dalam kisah ini.
Mari kita bayangkan! Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putra satu-satunya yang baru saja dikaruniai ketika di usia lanjut bahkan baru menginjak usia yang membanggakan.
Demikian pula sosok anak bernama Ismail, seorang anak yang baru menginjak usia remaja yang umumnya remaja saat ini lebih banyak menentang perintah orang tuanya dibandingkan menurutinya.
Namun berbeda dengan Ismail,, yang ketika ayahnya mengutarakan perihal perintah di dalam mimpinya untuk menyembelihnya yang secara logika manusia sungguh tidak masuk akal bahkan sadis dan kejam,, akan tetapi dengan lemah lembut dan tegas Ismail menjawab :
يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ
Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu!
Dari jawaban Ismail ini kita dapat menyaksikan, betapa Ismail justru memberikan dorongan kepada ayahnya untuk mengerjakan perintah Allah meskipun harus mengorbankan nyawanya.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah . . .
Setelah melalui dialog yang singkat antara ayah dan anak yang begitu berkesan, maka dimulailah pelaksanaan penyembelihan Ismail sebagai kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subḥānahu wata’āla.
Digambarkan di dalam Al-Quran :
فَلَمَّآ أَسۡلَمَا
Tatkala Nabi Ibrahim dan Ismail sudah berserah diri atas perintah Allah subḥānahu wata’āla.. bahkan Ibrahim sudah mempersiapkan pisau yang tertajam untuk menyembelih putranya,,[1]
وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ
Dan membaringkan anaknya dengan tengkurap sehingga pelipisnya menyentuh tanah agar ia dapat menyembelih dari tengkuknya dan agar wajahnya tidak terlihat ketika proses penyembelihan..[2]
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 103]
Maka ketika ujung pisau sudah menempel di atas tengkuknya dan Ibrahim sudah bersiap untuk menggorok leher Ismail,, tiba-tiba Allah subḥānahu wata’āla memanggil:
وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ
Wahai Nabi Ibrahim
قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ
Sungguh engkau telah membenarkan mimpi,, maksudnya cukup sampai di situ wahai Ibrahim!! Tidak perlu dilanjutkan lagi!! Sebab sesungguhnya engkau selesai melaksanakan perintah meskipun engkau hanya membaringkan anakmu dan bersiap untuk menyembelih anakmu..[3]
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 104-106]
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah . . .
Setelah Allah subḥānahu wata’āla memanggil Ibrahim untuk menghentikan prosesi penyembelihan Ismail dan menganggap bahwa Ibrahim telah melaksanakan perintah-Nya maka sebagai gantinya Allah menebus Ismail dengan domba yang besar dan gemuk.
وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ
Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.
[QS. Aṣh-Ṣhaffāt (37): 107]
Nabi Ibrahim yang tatkala itu mendengar seruan dari Allah untuk menghentikan eksekusinya, langsung melepaskan Ismail. Kemudian datanglah seekor gibas yang besar dan gemuk. Maka Ibrahim pun mengejar dan menangkap gibas tersebut dan menyembelihnya sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Peristiwa inilah yang mendasari disyariatkannya penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah . . .
Setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut. Maka, apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut?
Yang pertama, bahwa sebagai seorang muslim hendaknya kita tunduk dan patuh pada perintah Allah, segera melaksanakannya dengan penuh kerelaan hati dan menerimanya tanpa ragu ataupun memberi komentar, meskipun harus merelakan sesuatu yang sangat kita cintai.
Yang kedua, bahwa barang siapa yang taat kepada Allah maka Allah akan melapangkan segala kesulitan yang ada,, Allah swt berfirman :
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya
[QS. Aṭh-Ṭhalāq (65): 2]
Yang ketiga, bahwa sesungguhnya Allah akan memberikan ujian bagi siapa pun yang beriman. Tujuannya adalah agar Allah melihat, siapakah di antara kita yang memiliki kesungguhan dan kesabaran di atas keimanan. Allah subḥānahu wata’āla berfirman :
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَيَعۡلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar.
[QS. Āli ‘Imrān (3): 142]
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Naskah Khutbah Kedua
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَامْتَثِلُوا رَحِمَكُمُ اللهُ أَمْرَ رَبِّكُمْ فِي الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَالرَّسُولِ الْمُجْتَبَى الَّذِي أَثَابَكُمْ بِهِ أَجْرًا عَظِيمًا وَشَرَفًا عَمِيمًا فَقَالَ تَعَالَى قَوْلًا كَرِيمًا: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ، وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ، أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللَّهِ، إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Catatan:
Jika Anda ingin menyalin khotbah ini ke microsoft word untuk dicetak, Anda harus mendownload dan menginstall font KFGQPC HAFS Uthmanic Script agar teks Al-Quran dapat terbaca.