Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 1: Makna Pujian dan Rabb Semesta Alam

Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal kayu untuk kajian Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 1

Surat Al-Fatihah merupakan ummul kitab yang setiap ayatnya menyimpan makna mendalam. Dalam artikel ini, kita akan membedah tafsir surat Al-Fatihah ayat 1 untuk memahami hakikat pujian dan kedudukan Allah sebagai Rabb semesta alam. Penjelasan ini kita pelajari dari “Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr” (أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير) yang ditulis oleh Syekh Abu Bakar bin Jābir Al-Jazāiri (w. 1439 H), sebuah kitab tafsir kontemporer yang dikenal ringkas namun tetap berbobot.

A. Teks dan Terjemahan QS. Al-Fatihah Ayat 1[1]

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١

Segala puji bagi Allah, Tuhan[2] semesta alam

B. Makna “Pujian”

Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri berkata:

الْحَمْدُ: الْوَصْفُ بِالْجَمِيلِ، وَالثَّنَاءُ بِهِ عَلَى الْمَحْمُودِ ذِي الْفَضَائِلِ وَالْفَوَاضِلِ، كَالْمَدْحِ، وَالشُّكْرِ.

Al-Ḥamdu (pujian) artinya menyifati dan menyanjung dengan hal yang baik kepada pihak yang dipuji yang memiliki keutamaan sifat (yang melekat) maupun perbuatan (yang berdampak), seperti sanjungan dan syukur.

Penjelasan:

1. Makna “Pujian”

Pujian artinya adalah menyanjung dengan sifat-sifat yang baik kepada sosok yang dipuji. Pujian ini bisa memiliki dua makna:

  • Pertama, bermakna sanjungan terhadap sifat-sifat terpuji yang melekat pada pihak yang dipuji, seperti pujian atas ilmu yang dimiliki, keberanian, dan lain sebagainya.
  • Kedua, bermakna syukur (terima kasih) sebagai imbalan dari perbuatan baik yang dilakukan oleh pihak yang dipuji, seperti pujian atas kebaikan, kedermawanan, dan lain sebagainya.

2. Sanjungan dan Syukur Kepada Allah

Berdasarkan makna tersebut, maka ada dua pendapat mengenai makna الْحَمْدُ لِلَّهِ:

Pertama, pujian seorang hamba kepada Allah dalam rangka menyanjung nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang terpuji. Hal ini sebagaimana tafsir dari Ka’ab Al-Ahbār raḍhiyallāhu‘anhu bahwa ia mengatakan:

مَن قال: الحَمْدُ للَّهِ. فذلك ثناءٌ على اللَّهِ

Barang siapa yang mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ maka itu adalah sanjungan kepada Allah. [Tafsir Aṭh-Ṭhabari: 1/137]

Kedua, pujian seorang hamba kepada Allah sebagai rasa syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya. Hal ini sebagaimana tafsir dari Ibnu ‘Abbās raḍhiyallāhu‘anhu bahwa ia mengatakan:

الحمدُ هو الشكرُ للَّهِ، والاسْتِخْذاءُ للَّهِ، والإقْرارُ بنعمتِه وهدايتِه وابتدائِه، وغيرِ ذلك

Arti الْحَمْدُ adalah segala syukur kepada Allah, tunduk kepada Allah, mengakui nikmat-Nya, hidayah-Nya, permulaan (ciptaan)-Nya, dan hal lainnya. [Tafsir Aṭh-Ṭhabari: 1/136]

C. Makna “Bagi Allah”

Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri berkata:

لِلَّهِ: اللَّامُ حَرْفُ جَرٍّ وَمَعْنَاهَا الِاسْتِحْقَاقُ أَيْ: أَنَّ اللَّهَ مُسْتَحِقٌّ Lِجَمِيعِ الْمَحَامِدِ، وَ«اللَّه» عَلَمٌ عَلَى ذَاتِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

Lillāhi (bagi Allah): huruf lām (لِ) adalah huruf jar yang bermakna al-istiḥqāq (kekhususan/hak), artinya: bahwasanya Allah adalah Dżāt yang berhak untuk segala macam pujian. Sedangkan kata “Allah” merupakan nama bagi Dżāt Tuhan tabāraka wata’āla.

Penjelasan:

1. Seluruh Pujian Hanya Berhak Bagi Allah

Huruf lām kasrah (لِ) pada lafal لِلَّهِ disebut dengan huruf jar. Dalam bahasa Arab, huruf tersebut memiliki banyak kemungkinan makna. Adapun makna huruf lām pada lafal tersebut adalah al-istiḥqāq (hak/kekhususan) sehingga makna الْحَمْدُ لِلَّهِ adalah seluruh pujian hanya berhak bagi Allah semata, bukan selain-Nya.

2. Makna Allah

Allah adalah nama bagi Tuhan sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta. Nama Allah adalah nama yang tidak ada selain-Nya yang dinamai dengan nama tersebut. Allah adalah nama-Nya yang paling agung. Penjelasan rinci tentang makna Allah telah kami paparkan pada materi kajian sebelumnya yang berjudul: Tafsir Basmalah dan Hukum-hukumnya

D. Makna “Tuhan”

Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri berkata:

الرَّبّ: السَّيِّدُ الْمَالِكُ الْمُصْلِحُ الْمَعْبُودُ بِحَقٍّ جَلَّ جَلَالُهُ.

Ar-Rabb (Tuhan) artinya Pemimpin, Pemilik, Yang Memperbaiki/Memelihara, serta yang disembah dengan benar Yang Maha Agung Kemuliaan-Nya.

Penjelasan:

1. Makna Kata “Rabb”

Secara bahasa, kata Rabb (رَبٌّ) adalah bentuk maṣhdar[3], namun maknanya merujuk pada fā’il[4]. Kata tersebut berasal dari kata kerja رَبَّ يَرُبُّ. Dalam percakapan orang Arab, kata Rabb memiliki tiga makna:

Pertama, pemimpin yang ditaati (tuan). Di antara contoh penggunaannya dalam bahasa Arab adalah sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran:

أَمَّآ أَحَدُكُمَا فَيَسۡقِي رَبَّهُۥ خَمۡرٗاۖ

salah seorang di antara kamu akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya

[QS. Yūsuf (12): 41]

Dalam ayat ini, kata rabbahu (رَبَّهُۥ) bermakna tuannya.

Contoh lain adalah sebagaimana disebutkan dalam Al-Hadis:

إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا

Tatkala seorang wanita melahirkan tuannya

[HR. Bukhari no. 4777]

Dalam hadis ini, kata rabbataha (رَبَّتَهَا) bermakna tuannya atau majikannya.

Kedua, pemilik. Di antara contoh penggunaannya dalam bahasa Arab adalah sebagaimana disebutkan dalam Al-Hadis tentang seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam perihal unta yang tersesat, beliau bersabda:

مَا لَكَ وَلَهَا؟ مَعَهَا حِذَاؤُهَا وَسِقَاؤُهَا حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا.

Apa urusanmu dengannya? Unta itu memiliki sepatunya dan tempat minumnya hingga pemiliknya menemukannya.

[HR. Bukhari no. 6112]

Dalam hadis ini, kata Rabbuha (رَبُّهَا) bermakna pemiliknya.

Ketiga, yang memperbaiki atau mengurus dengan mengatur. Di antara contoh penggunaannya dalam bahasa Arab adalah sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:

وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّـۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ

tetapi (hendaknya dia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah karena kamu selalu mengajarkan kitab”

[QS. Āli ‘Imrān (3): 79]

Dalam ayat ini, kata rabbāniyyīn (رَبَّٰنِيِّـۧنَ) yang diterjemahkan “pengabdi Allah” maksudnya adalah para ulama. Mereka disebut rabbāniyyīn karena mereka mengatur dan mengurusi urusan umat manusia dengan mengajarkan ilmu dan memperbaiki urusan mereka.

Contoh lainnya adalah rabbatul bait (رَبَّةُ الْبَيتِ) yang artinya pengurus rumah tangga atau orang yang mengurus urusan rumah.

2. Kata “Ar-Rabb” Hanya untuk Allah

Rabb (رَبٌّ) ditambah alif lam (ال) menjadi Ar-Rabb (الرَّبُّ). Ar-Rabb adalah khusus bagi Allah sebab itu adalah salah satu nama-Nya. Maka dari itu, kata tersebut tidak boleh digunakan untuk selain Allah. Jika ingin digunakan maka harus disandarkan dengan kata yang lain, contoh: رَبُّ الدَّارِ (tuan rumah).

3. Tuhan yang Tidak Ada yang Setara dengan-Nya

Berdasarkan pemaparan makna Rabb sebelumnya, maka makna Ar-Rabb bagi Allah adalah:

  • Tuan, Pemimpin, dan Penguasa yang ditaati yang tidak ada serupa bagi-Nya dan tidak ada satu pun yang setara dengan kepemimpinan-Nya. Kepemimpinan-Nya bersifat mutlak, tertinggi, dan tidak menyerupai kepemimpinan makhluk mana pun.
  • Yang Memperbaiki, Mengurus, dan Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya dengan cara mencurahkan dan mencukupkan segala nikmat yang dibutuhkan oleh mereka.
  • Pemilik mutlak atas seluruh ciptaan karena Dialah yang menciptakannya serta pemilik segala perintah di mana hanya Dialah yang berhak memerintah, mengatur, serta menentukan hukum syariat di dalamnya.

Imam Ibnu Jarīr Aṭh-Ṭhabari mengatakan:

فربُّنا جل ثناؤُه السيدُ الذي لا شِبْهَ له، ولا مِثْلَ في مثلِ سُؤْدُدِه، والمُصْلِحُ أمرَ خلقِه بما أسْبَغ عليهم مِن نعمِه، والمالكُ الذي له الخلقُ والأمرُ.

Tuhan kita adalah Tuan yang tidak ada yang serupa bagi-Nya, tidak ada yang setara dalam kepemimpinan-Nya, dan Dia adalah Dżāt yang memperbaiki urusan makhluk-Nya melalui karunia nikmat-Nya yang dicurahkan kepada mereka, serta Pemilik yang seluruh ciptaan dan perintah adalah milik-Nya. [Tafsir Aṭh-Ṭhabari: 1/143]

E. Makna “Semesta Alam”

Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri berkata:

الْعَالَمِينَ: جَمْعُ «عَالَم» وَهُوَ كُلُ?? مَا سِوَى اللهِ تَعَالَى، كَعَالَمِ الْمَلَائِكَةِ، وَعَالَمِ الْجِنِّ، وَعَالَمِ الْإِنْسِ، وَعَالَمِ الْحَيَوَانِ، وَعَالَمِ النَّبَاتِ.

Al-‘Ālamīn (semesta alam) merupakan bentuk jamak dari kata ‘ālam, yang artinya segala sesuatu selain Allah ta’āla, seperti alam malaikat, alam jin, alam manusia, alam hewan, dan alam tumbuhan.

Penjelasan:

1. Arti “Alam” Secara Bahasa

Syekh Abu Bakar mengatakan bahwa Al-‘Ālamīn merupakan bentuk jamak dari kata ‘ālam. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh para ahli tafsir seperti Imam Aṭh-Ṭhabari, Al-Qurṭhubi, Al-Baghawi, dan Ibnu Katṡīr dalam kitab tafsirnya.[5] Kata ‘ālam berasal dari kata al-‘Alāmah yang berarti tanda. Menurut Ibnu Katṡīr, dikatakan demikian karena keberadaan alam ini menunjukkan keberadaan pencipta-Nya dan keesaan-Nya.[6]

2. Makna “Semesta Alam”

Para ahli tafsir dari kalangan salaf berbeda pendapat tentang makna الْعَالَمِينَ. Dari sekian banyak pendapat tersebut, Imam Aṭh-Ṭhabari mengompromikan berbagai pendapat yang ada sehingga sampai pada kesimpulan bahwa alam adalah nama untuk kelompok ragam jenis umat (makhluk). Setiap jenis umat dari ragam tersebut disebut sebagai satu alam. Penduduk setiap kurun waktu dari masing-masing jenis umat tersebut merupakan alam bagi kurun waktu dan zaman itu sendiri. Manusia adalah satu alam. Penduduk zaman dari kalangan manusia adalah alam bagi zaman tersebut. Jin merupakan satu alam. Demikian pula seluruh rumpun makhluk lainnya yang setiap rumpun adalah alam bagi zamannya. Oleh karena itu, semesta alam adalah kumpulan dari alam-alam tersebut.[7]

Sedangkan Imam Al-Baghawi, beliau hanya memaparkan berbagai pendapat para salaf dalam kitab tafsirnya tanpa menyimpulkan ataupun menguatkan salah satunya.[8]

Adapun Imam Al-Qurṭhubi, beliau menguatkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa alam adalah meliputi setiap makhluk dan segala yang ada selain Allah.[9]

Dalam hal ini, Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri mengadopsi pendapat yang dikuatkan oleh Imam Al-Qurṭhubi di mana alam adalah segala sesuatu selain Allah. Selain itu, Syekh juga mengadopsi pendapat yang dikompromikan oleh Imam Aṭh-Ṭhabari bahwa alam adalah nama untuk mengelompokkan ragam jenis umat, di mana setiap rumpun adalah satu alam tersendiri, seperti alam malaikat, alam jin, alam manusia, alam hewan, dan alam tumbuhan.

F. Makna Al-Fatihah Ayat 1 Secara Keseluruhan

Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri berkata:

مَعْنَى الْآيَةِ: يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ جَمِيعَ أَنْوَاعِ الْمَحَامِدِ مِنْ صِفَاتِ الْجَلَالِ وَالْكَمَالِ هِيَ لَهُ وَحْدَهُ دُونَ مَنْ سِوَاهُ؛ إِذْ هُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَخَالِقُهُ وَمالِكُهُ. وَأَنَّ عَلَيْنَا أَنْ نَحْمَدَهُ وَنُثْنِيَ عَلَيْهِ بِذَلِكَ.

Makna Ayat: Allah ta’āla mengabarkan bahwasanya segala jenis pujian berupa sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan adalah milik-Nya semata, bukan milik selain-Nya dikarenakan Dialah Pengatur, Pencipta, dan Pemilik segala sesuatu. Dan bahwasanya wajib atas kita untuk memuji serta menyanjung-Nya atas hal tersebut.

Penjelasan:

Setelah memaparkan makna kata demi kata, Syekh Abu Bakar menutup penjelasannya dengan menyimpulkan makna global ayat secara utuh. Dari pemaparan tersebut ada beberapa poin yang bisa kita ambil:

1. Segala Puji bagi Allah

Kata Al-Ḥamdu (الحَمْدُ) pada ayat ini dimaknai “segala pujian” karena terdapat Alif Lām (ال) yang menunjukkan makna Al-Istighrāq (meliputi segalanya). Imam Aṭh-Ṭhabari menegaskan:

أَنَّ مَعْنَاهُ: جَمِيعُ الْمَحَامِدِ وَالشُّكْرِ الْكَامِلُ للَِّهِ

Maknanya adalah segala puji dan kesempurnaan syukur seutuhnya adalah milik Allah semata. [Tafsir Aṭh-Ṭhabari: 1/138]

2. Pujian dengan Sifat yang Sempurna

Tidak ada satu pun yang pantas untuk dipuji dengan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan secara mutlak kecuali hanya Allah subḥānahu wata’āla semata. Adapun sifat terpuji yang ada pada makhluk bersifat terbatas, tidak sampai pada sempurna. Sedermawan apa pun seseorang pasti masih ada batasnya. Seluas apa pun ilmu seseorang, masih ada ketidaktahuan di dalamnya. Demikian pula sekaya apa pun seseorang, suatu saat hartanya pasti akan habis.

Sementara itu, kedermawanan, keluasan ilmu, dan kekayaan Allah bersifat sempurna, absolut, dan tak terbatas. Maka dari itu, dalam ungkapan kita sehari-hari selalu menyertakan lafal “Maha” di setiap sifat Allah, seperti Maha Dermawan, Maha Mengetahui, Maha Kaya, dan lain sebagainya sebagai penanda akan kesempurnaan-Nya.

3. Allah Tuhan Semesta Alam

Allah adalah Pengatur, Pencipta, dan Pemilik tunggal segala sesuatu yang ada di alam semesta. Jika makhluk memiliki kepemilikan atau pengaturan di dunia, maka itu hanyalah titipan yang ada batasnya, semu, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

4. Kita Wajib Memuji Allah

Wajib bagi kita untuk memuji serta menyanjung Allah dengan mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. Imam Aṭh-Ṭhabari menjelaskan bahwa tatkala Allah berfirman الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ maka hakikatnya Dia sedang memuji diri-Nya sendiri sekaligus mengajarkan para hamba-Nya untuk memuji-Nya dan mewajibkan mereka untuk membacanya. Seakan-akan Allah berfirman: “Katakanlah oleh kalian: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”.[10] Meskipun secara lafal ayat ini berbentuk berita, namun maknanya adalah insyā'iyyah (berita dengan makna perintah).

Referensi Kitab

  • Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr oleh Abu Bakar bin Jābir Al-Jazāiri
  • Jāmi’ul-Bayān ‘an Ta'wīli Āyil-Qurān oleh Ibnu Jarīr Aṭh-Ṭhabari
  • Tafsīrul-Qurānil-‘Aẓhīm oleh Ibnu Katṡīr
  • Ma'ālimut-Tanzīl fī Tafsīril-Qurān oleh Al-Baghawi
  • Al-Jāmi’ li Aḥkāmil-Qurān oleh Al-Qurṭhubi
  • Al-Asmā' Al-Ḥusna Taṣhnīfan wa Ma’nan oleh Mājid bin ‘Abdillāh Āli ‘Abdil-Jabbār

[1] Ayat satu berdasarkan pendapat yang dipilih oleh Penulis Aisar, Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri

[2] Catatan kaki terjemah kemenag 2019: “Allah Swt. disebut rabb (Tuhan) seluruh alam karena Dialah yang telah menciptakan, memelihara, mendidik, mengatur, mengurus, memberi rezeki, dan sebagainya kepada semua makhluk-Nya.”

[3] Maṣhdar adalah kata benda yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian secara umum tanpa menyebut siapa pelakunya dan kapan waktunya. Maṣhdar juga menjadi kata dasar bagi semua kata turunan dalam bahasa Arab.

[4] Kata benda yang menunjukkan pelaku dari suatu perbuatan.

[5] Lihat: Aṭh-Ṭhabari, Jāmi’ul-Bayān ‘an Ta'wīl Āyil-Qurān, cet. 1, (Kairo: Dār Hajar, 1422 H/2001 M), 1/144; Al-Qurṭhubi, Al-Jāmi’ li Aḥkāmil-Qurān, cet. 2, (Kairo: Dārul-Kutub Al-Miṣhriyyah, 1384 H/1964 M), 1/138; Al-Baghawi, Ma'ālimut-Tanzīl fī Tafsīril-Qurān, cet. 4, (Riyadh: Dār Ṭhayyibah, 1417 H/1997 M), 1/52; Ibnu Katṡīr, Tafsīr Al-Qurānil-'Aẓhīm, cet. 1, (Arab Saudi: Dār Ibn Al-Jauzi, 1431 H), 1/199.

[6] Ibnu Katṡīr, Tafsīr..., (Arab Saudi: Dār Ibn Al-Jauzi, 1431 H), jilid 1, hlm. 202.

[7] Aṭh-Ṭhabari, Jami’ul..., (Kairo: Dār Hajar, 1422 H/2001 M), jilid 1, hlm. 144.

[8] Al-Baghawi, Ma'ālimut..., (Riyadh: Dār Ṭhayyibah, 1417 H/1997 M), jilid 1, hlm. 52-53.

[9] Al-Qurṭhubi, Al-Jāmi’..., (Kairo: Dārul-Kutub Al-Miṣhriyyah, 1384 H/1964 M), jilid 1, hlm. 138-139

[10] Aṭh-Ṭhabari, Jami’ul..., (Kairo: Dār Hajar, 1422 H/2001 M), jilid 1, hlm. 139.