Tauhid Rububiyyah: Macam-Macam Penyimpangan dan Contohnya

Gestur tangan manusia menyilang membentuk tanda silang atau X sebagai simbol penolakan dan penyimpangan Tauhid Rububiyyah

Pada artikel sebelumnya telah kita ketahui bersama bahwa konsekuensi tauhid rubūbiyyah atau meyakini Allah sebagai Pencipta, Pengatur, dan Pemilik semesta alam adalah beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukannya. Pada kesempatan kali ini, kita akan mengkaji apa saja macam-macam penyimpangan dalam tauhid rubūbiyyah beserta contohnya.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tauhid rubūbiyyah adalah perkara yang tertanam kuat di dalam jiwa. Secara alami, jiwa manusia tercipta di atas keyakinan tersebut. Dalil-dalil tentang tauhid rubūbiyyah juga sangat banyak. Meskipun demikian, tetap saja dijumpai di antara manusia yang mengalami penyimpangan dalam perkara tersebut.

Di antara bentuk-bentuk penyimpangan berkaitan dalam bab ini sebenarnya sangat banyak. Namun, jika diringkas maka menjadi tiga hal berikut ini:

1. Mengingkari Secara Mutlak

Yakni mengingkari rubūbiyyah Allah subḥānahu wata’āla secara mutlak dan mengingkari keberadaan-Nya. Hal ini sebagaimana apa yang diyakini oleh orang-orang ateis di mana mereka meyakini bahwa keberadaan makhluk di alam semesta ini ada dengan sendirinya secara natural (naturalisme). Sebagaimana pula apa yang diyakini kaum Ad-Dahriyyah yang meyakini bahwa alam semesta hanyalah siklus materi yang terjadi secara otomatis karena berjalannya waktu, dan lain sebagainya.

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.”

[QS. Al-Jātṡiyah (42): 24]

2. Mengingkari Sebagian Sifat Rubūbiyyah Allah dan Sebagian Maknanya

Yakni mengingkari sebagian sifat-sifat khusus bagi Tuhan dan mengingkari sebagian makna rubūbiyyah-Nya. Di antara contohnya adalah mengingkari kekuasaan Allah untuk mematikan makhluk dan menghidupkannya kembali setelah kematiannya. Termasuk mengingkari kekuasaan Allah dalam mendatangkan manfaat baginya atau menolak mudarat darinya, dan lain sebagainya.

3. Meyakini Kekhususan Rubūbiyyah Kepada Selain Allah

Yakni meyakini adanya selain Allah yang memiliki kekhususan rubūbiyyah (sifat-sifat khusus Tuhan), seperti meyakini adanya yang mampu mengatur alam semesta bersamaan dengan Allah subḥānahu wata’āla dalam hal apa pun seperti menciptakan, melenyapkan, menghidupkan, mematikan, mendatangkan kebaikan, menolak keburukan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan rubūbiyyah (sifat-sifat khusus Tuhan). Barang siapa yang meyakini hal demikian maka ia telah berbuat syirik kepada Allah Yang Maha Agung.

Referensi

  • Uṣhūlul-Īmān fi Ḍhauil-Kitābi was-Sunnah oleh Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam - KSA