Naskah Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا. يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا
أما بعد: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مَحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...
Pada saat kita bekerja mencari rezeki, entah itu sebagai pegawai, pedagang, pebisnis, ataupun yang lainnya, maka kepada siapakah kita menggantungkan rezeki kita?
Apakah kepada atasan atau instansi yang menggaji kita?
Ataukah kepada pelanggan yang membeli produk atau dagangan kita?
Ataukah kepada Allah yang Maha Memberi rezeki?
Jika kita bicara realita, – jamaah sekalian,,, – betapa banyak di antara manusia yang tidak menyadari masih menggantungkan rezekinya kepada manusia. Apa buktinya?
Kita ambil contoh misalnya di dunia perkantoran dan instansi baik swasta apalagi instansi pemerintah, kita menyaksikan banyaknya pegawai atau bawahan yang menuruti atasannya dalam perkara yang diharamkan. Contohnya seperti diminta untuk memanipulasi laporan, mark up anggaran untuk dikorupsi, dan lain sebagainya. Dia tahu apa yang diminta atasannya adalah haram, tetapi demi tidak kehilangan pekerjaan ataupun jabatannya ia rela melakukannya.
Atau misalnya kita ambil contoh di dunia bisnis dan perdagangan, kita melihat banyaknya praktik kecurangan yang dilakukan oleh para pedagang. Contohnya seperti manipulasi takaran dan timbangan, menyembunyikan cacat produk, klaim manfaat produk yang berlebihan, dan lain sebagainya. Dia tahu ia sedang menipu pelanggannya, tetapi demi mendapatkan keuntungan besar ia rela melakukannya.
Bahkan di dunia konten kreator – jamaah sekalian,,, – kita juga menyaksikan banyaknya praktik-praktik yang diharamkan. Contohnya seperti membuat konten yang terbuka aurat, merendahkan kehormatan diri sendiri, atau merendahkan kehormatan orang lain seperti membuat konten prank, dan lain sebagainya. Dia tahu ia sedang merendahkan harga dirinya dan orang lain, tetapi demi viral dan mendapatkan banyak endorsment ia rela melakukannya.
Ini adalah bukti nyata, – jamaah sekalian,,, – bahwa banyak di antara manusia yang tidak menyadari sedang menggantungkan rezekinya kepada sesama manusia!
Banyak para pegawai mengira bahwa dengan membuat atasan senang meskipun harus menurutinya dalam hal yang diharamkan maka karirnya akan semakin lancar. Banyak para pedagang mengira bahwa dengan membuat pelanggan senang meskipun harus dengan cara menipu maka semakin besar peluang produk ataupun jasanya terjual. Banyak konten kreator mengira bahwa dengan membuat netizen senang meskipun harus dengan cara yang tidak pantas maka akan mendapat banyak endorsment, dan lain sebagainya.
Padahal, – jamaah sekalian,,, – manusia yang kita harapkan pada hakikatnya hanyalah makhluk yang lemah! Mereka sendiri tidak mampu sedikit pun menentukan banyaknya rezeki yang kita terima. Mereka bahkan juga tidak mampu sedikit pun menentukan banyaknya rezeki untuk diri mereka sendiri. Namun anehnya, kita malah menggantungkan rezeki kita kepada mereka.
Padahal jelas-jelas Rasulullah ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ
Ketahuilah, sesungguhnya jika umat ini berkumpul untuk memberimu suatu manfaat – seperti uang atau gaji, misalnya –, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Demikian pula sebaliknya, beliau bersabda:
وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ،
Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu – seperti tidak membayar hak berupa gaji atau menjatuhkan dan memfitnah, misalnya –, maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
Pena telah diangkat dan lembaran telah kering – maksudnya takdir telah ditetapkan dan tidak bisa diubah lagi –.
[HR. Tirmidzi no. 2516]
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...
Jika kita bertanya, apa yang menyebabkan kita begitu menggantungkan rezeki kita kepada manusia?
Maka jawabannya adalah karena kita belum benar-benar yakin bahwa kita punya Allah Maha yang Maha Memberi Rezeki.
Kita belum sepenuhnya yakin bahwa:
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ
Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki
[QS. Adz-Dzariyat (51): 58]
Kita belum sepenuhnya yakin bahwa:
ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ
Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki) baginya.
[QS. Al-Ankabut (29): 62]
Kita belum sepenuhnya yakin bahwa:
وَٱللَّهُ يَقۡبِضُ وَيَبۡصُۜطُ
Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki).
[QS. Al-Baqarah (2): 245]
Maka, tatkala kita merasa cemas akan rezeki kita,, tatkala kita takut bisnis kita bangkrut,, atau tatkala kita takut kehilangan peluang keuntungan yang besar dan karir yang cemerlang karena kejujuran kita dalam bekerja dan mencari rezeki, ingatlah bahwa Allah subḥānahu wata’āla telah berfirman:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
Tidak satu pun hewan – termasuk manusia – yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah.
[QS. Hūd (11): 6]
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...
Jika binatang melata yang tak berakal, tak berijazah, dan tak pandai berbisnis saja dijamin rezekinya oleh Allah, lantas mengapa kita yang diberikan akal dan fisik yang sempurna ini harus merasa takut kelaparan? Mengapa kita harus mengemis rida kepada makhluk yang fakir, sampai-sampai kita rela menabrak aturan-aturan Allah? Bukankah Allah telah menjamin rezeki kita?
Ingatlah, – jamaah sekalian,,, – atasan kita hanyalah perantara! Pelanggan kita hanyalah perantara! Adapun yang menggerakkan hati mereka untuk menggaji kita, memberi bonus kinerja kepada kita, atau membeli dan memborong produk maupun jasa kita adalah Allah subḥānahu wata’āla.
Bukankah Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآۚ
Tidak satu pun makhluk yang bergerak (di atas bumi) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) – yakni maksudnya mengendalikannya –.
[QS. Hūd (11): 56]
Maka dari itu, jamaah kaum muslimin rahimakumullah...
Setelah kita tahu bahwa Allahlah yang menjamin rezeki kita, maka tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba yang beriman kecuali: Menggantungkan seluruh urusan rezekinya hanya kepada Allah.
Mulai detik ini, ketika kita pulang dari salat Jumat dan kembali bekerja mencari rezeki, mari kita merdekakan jiwa kita dari perbudakan dunia.
Tanamkanlah dalam hati kita bahwa saat kita bekerja maka kita bukan bekerja untuk menghamba kepada atasan, karir yang cemerlang, ataupun harta duniawi. Akan tetapi, sesungguhnya kita bekerja hanyalah semata-mata untuk menunaikan perintah Allah!
Jika kita sudah bekerja dengan cara yang baik maka biarkanlah Allah yang menentukan berapa rezeki yang kita peroleh!
Jika kita sudah berdagang dengan jujur biarkanlah Allah yang menetukan seberapa banyak yang membeli dagangan kita!
Jangan sampai kita menabrak aturan Allah dengan harapan memperoleh rezeki lebih dari apa yang Allah tetapkan! Karena cara apa pun yang kita gunakan untuk memperoleh rezeki, entah halal ataupun haram, maka itu tidak akan mengubah jatah rezeki kita. Bedanya, yang halal mendatangkan berkah dan pahala, sedangkan yang haram menyisakan dosa dan kesengsaraan.
Ingatlah! Sesungguhnya Allah telah menetapkan berapa banyak rezeki yang akan kita dapatkan. Tidak ada sedikit pun jatah rezeki yang akan terlewatkan jika itu memang jatah kita. Rasulullah ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia! Sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga terpenuhi jatah rezekinya meskipun tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah! Carilah yang baik dalam mencari dunia! Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram!
[HR. Ibnu Mājah: 2144]
Ketahuilah! Orang yang bertawakal penuh kepada Allah tidak akan pernah bisa didikte oleh ketakutan duniawi. Ia tidak akan cemas menghadapi persaingan bisnis di saat yang lain berbuat licik dan curang,, ia tidak akan gemetar menghadapi ancaman manusia di saat yang lain ketakutan kehilangan jabatan dan karirnya,, karena ia tahu, ia memiliki Tuhan yang Maha Kaya lagi Maha Mencukupi.
Allah subḥānahu wata’āla telah memberikan garansi yang mutlak di dalam Al-Quran:
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.
[QS. Aṭh-Ṭhalāq (65): 2-3]
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap bergantung hanya kepada-Nya, dan menganugerahkan kita rezeki yang halal lagi berkah.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Naskah Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيهِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللَّهِ، إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Catatan:
Jika Anda ingin menyalin khotbah ini ke microsoft word untuk dicetak, Anda harus mendownload dan menginstall font KFGQPC HAFS Uthmanic Script agar teks Al-Quran dapat terbaca.