Khutbah Jumat: Jangan Menggantungkan Rezeki kepada Manusia, Allah-lah Penjamin Rezeki

Siluet seorang pria muslim menatap cahaya matahari terbit di atas perkotaan modern, ilustrasi tawakal dan jaminan rezeki dari Allah dalam khutbah Jumat.

Naskah Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا. يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا

أما بعد: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مَحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...

Pada saat kita bekerja mencari rezeki, entah itu sebagai pegawai, pedagang, pebisnis, ataupun yang lainnya, maka kepada siapakah kita menggantungkan rezeki kita?

Apakah kepada atasan atau instansi yang menggaji kita?

Ataukah kepada pelanggan yang membeli dagangan kita?

Ataukah kepada Allah yang Maha Memberi rezeki?

Jika kita bicara realita, – jamaah sekalian,,, – jujur saja masih banyak di antara kita yang menggantungkan rezekinya kepada manusia. Apa buktinya? Buktinya, banyak yang masih menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang yang tidak seberapa...

Kita ambil contoh misalnya di dunia kantor dan instansi, kita melihat adanya praktik suap-menyuap, manipulasi laporan atau data keuangan, hingga saling menjatuhkan dan memfitnah rekan kerja demi berebut jabatan.

Atau misalnya kita ambil contoh di dunia bisnis dan perdagangan, seperti manipulasi takaran dan timbangan, menyembunyikan cacat pada produk, klaim keunggulan produk yang berlebihan hingga penipuan dan lain sebagainya.

Bahkan di dunia konten kreator – jamaah sekalian,,, – yang kita tahu ini merupakan salah satu hal yang cukup menghasilkan, kita juga menyaksikan banyaknya orang-orang yang merendahkan kehormatan demi uang yang tidak seberapa, seperti membuat konten prank, membuat konten joget dan membuka aurat, hingga merendahkan diri dengan mengemis demi mendapatkan gift dari penonton, dan lain sebagainya.

Ini adalah bukti nyata, – jamaah sekalian,,, – bahwa banyak di antara kita yang masih menggantungkan rezekinya kepada manusia!

Padahal, manusia yang kita harapkan pada hakikatnya hanyalah makhluk yang lemah! Mereka tidak mampu sedikit pun menentukan banyaknya rezeki yang kita terima. Mereka bahkan juga tidak mampu sedikit pun menentukan banyaknya rezeki untuk diri mereka sendiri. Namun anehnya, kita malah menggantungkan rezeki kita kepada mereka.

Padahal jelas-jelas Rasulullah ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ ‌لَوْ ‌اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ

Ketahuilah, sesungguhnya jika umat ini berkumpul untuk memberimu suatu manfaat – seperti uang atau gaji, misalnya –, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.

Demikian pula sebaliknya, beliau bersabda:

وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ،

Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu – seperti tidak membayar hak berupa gaji atau menjatuhkan dan memfitnah, misalnya –, maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.

رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Pena telah diangkat dan lembaran telah kering – maksudnya takdir telah ditetapkan dan tidak bisa diubah lagi –.

[HR. Tirmidzi no. 2516]

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...

Jika kita bertanya, apa yang menyebabkan kita begitu menggantungkan rezeki kita kepada manusia?

Maka jawabannya adalah karena kita belum benar-benar yakin bahwa kita punya Allah Maha yang Maha Memberi Rezeki.

Kita belum sepenuhnya yakin bahwa hanya Allahlah yang menentukan kapan keran rezeki itu dikucurkan kepada kita...

Kita belum sepenuhnya yakin bahwa hanya Allahlah yang menentukan kapan keran rezeki itu disempitkan kepada kita...

Maka, tatkala kita merasa cemas akan rezeki kita,, tatkala kita takut bisnis kita bangkrut,, atau tatkala kita takut kehilangan peluang keuntungan yang besar karena kejujuran kita dalam bekerja dan mencari rezeki, ingatlah bahwa Allah subḥānahu wata’āla telah berfirman:

۞ وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا

Tidak satu pun hewan – termasuk manusia – yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah.

[QS. Hūd (11): 6]

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...

Jika binatang melata yang tak berakal, tak berijazah, dan tak memiliki strategi marketing saja dijamin rezekinya oleh Allah, lantas mengapa kita yang diberikan akal dan fisik yang sempurna ini harus merasa takut kelaparan? Mengapa kita harus mengemis rida kepada makhluk yang fakir, sampai-sampai kita rela menabrak aturan-aturan Allah? Bukankah Allah telah menjamin rezeki kita?

Ingatlah, – jamaah sekalian,,, – atasan kita hanyalah perantara! Pelanggan kita hanyalah perantara! Adapun yang menggerakkan hati mereka untuk menggaji kita, memberi bonus kinerja kepada kita, atau membeli dan memborong produk maupun jasa kita adalah Allah subḥānahu wata’āla.

Bukankah Allah subḥānahu wata’āla berfirman:

مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآۚ

Tidak satu pun makhluk yang bergerak (di atas bumi) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) – yakni maksudnya mengendalikannya –.

[QS. Hūd (11): 56]

Maka dari itu, tugas kita, – jamaah sekalian,,, – hanyalah bekerja dengan sebaik-baiknya! Tugas kita hanyalah berusaha mendapatkan rezeki dengan cara yang halal! Tugas kita adalah bekerja dengan sejujur-jujurnya!

Jika pekerjaan kita adalah pedagang atau pebisnis maka jadilah pedagang dan pebisnis yang jujur dan amanah..!

Jika pekerjaan kita adalah karyawan atau pegawai maka jadilah karyawan dan pegawai yang jujur dan amanah..!

Tugas kita bukanlah menentukan seberapa banyak rezeki yang kita peroleh!

Bukan pula menentukan seberapa banyak yang membeli dagangan kita!

Maka janganlah kita menabrak aturan Allah dengan harapan memperoleh rezeki lebih dari apa yang Allah tetapkan!

Karena cara apa pun yang kita gunakan untuk memperoleh rezeki, entah halal ataupun haram, maka itu tidak akan mengubah jatah rezeki kita. Bedanya, yang halal mendatangkan berkah dan pahala, sedangkan yang haram menyisakan dosa dan kesengsaraan.

Ingatlah! Sesungguhnya Allah telah menetapkan berapa banyak rezeki yang akan kita dapatkan. Tidak ada sedikit pun jatah rezeki yang akan terlewatkan jika itu memang jatah kita. Ingatlah bahwa Rasulullah ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia! Sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga terpenuhi jatah rezekinya meskipun tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah! Carilah yang baik dalam mencari dunia! Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram!

[HR. Ibnu Mājah: 2144]

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...

Terkadang, sebagai manusia yang berakal pendek, kita merasa bahwa kelancaran karier dan besarnya keuntungan bisnis adalah segalanya. Kita merasa, jika kita memanipulasi laporan kepada atasan agar “kelihatan kerja” demi mendapatkan gaji dan bonus kinerja, atau menipu pelanggan kita demi keuntungan melimpah, maka hidup kita akan jauh lebih tenang dan bahagia. Kita mengira, analisis kita lebih hebat daripada ketetapan Allah.

Namun, bagaimanakah kenyataannya dalam kehidupan?

Apakah gaji dan bonus kinerja yang didapatkan dari manipulasi laporan itu benar-benar mendatangkan ketenangan? Apakah keuntungan melimpah dari hasil membohongi pelanggan itu benar-benar membuahkan kebahagiaan?

Realitanya, – jamaah sekalian,,, – justru yang terjadi adalah sebaliknya!

Harta yang dijemput dengan cara yang haram, tidak akan pernah mendatangkan ketenangan. Hati kita justru akan selalu didera rasa cemas. Cemas kalau-kalau manipulasi dan pencitraan kita terbongkar, cemas kalau-kalau kebohongan kita diketahui oleh atasan atau pelanggan kita. Kita tidak pernah tenang menikmati harta tersebut karena di dalam dada kita ada rasa bersalah dan ketakutan yang terus-menerus menghantui.

Kita mungkin berhasil mengelabui manusia, tetapi kita lupa bahwa Allah Maha Mengetahui segala rahasia.

Apa gunanya angka yang besar di rekening kita, jika didapatkan dengan cara mengundang murka Allah? Apa gunanya rumah dan kendaraan yang mewah, jika Allah cabut rasa tenang dan bahagia dari dalam keluarga kita? Kita mengejar rida manusia demi harta yang fana, tapi di saat yang sama kita menghancurkan kedamaian jiwa kita sendiri.

Maka, ketahuilah... saat kita ikhlas melepaskan sebuah keuntungan karena tahu cara tersebut dilarang oleh Allah, saat itulah kita sedang membuktikan bahwa kita percaya pada pengetahuan Allah. Kita percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya telantar hanya karena ia memilih untuk jujur dalam mencari rezeki. Allah pasti akan menggantinya dengan jalan lain yang jauh lebih mulia dan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...

Oleh karena itu, di ujung khotbah ini, setelah kita tahu bahwa Allahlah yang menjamin rezeki kita, maka tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba yang beriman kecuali: Menggantungkan seluruh urusan rezekinya hanya kepada Allah.

Mulai detik ini, – jamaah sekalian,,, – ketika kita pulang dari ibadah Jumat dan kembali bekerja mencari rezeki, mari kita merdekakan jiwa kita dari perbudakan dunia.

Tanamkanlah dalam hati kita bahwa saat kita bekerja maka kita bukan bekerja untuk menghamba kepada atasan, bukan pula untuk mendewakan pelanggan. Akan tetapi, sesungguhnya kita bekerja hanyalah semata-mata untuk menunaikan perintah Allah.

Maka dari itu, lakukan ikhtiar yang paling maksimal secara lahiriah, tetapi pasrahkan seluruh hasilnya secara batiniah hanya kepada Allah. Orang yang bertawakal penuh kepada Allah tidak akan pernah bisa didikte oleh ketakutan duniawi. Ia tidak akan cemas menghadapi persaingan bisnis, ia tidak akan gemetar menghadapi ancaman manusia, karena ia tahu, ia memiliki Tuhan yang Maha Kaya lagi Maha Mencukupi.

Allah subḥānahu wata’āla telah memberikan garansi yang mutlak di dalam Al-Quran:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.

[QS. Aṭh-Ṭhalāq (65): 2-3]

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap bergantung hanya kepada-Nya, dan menganugerahkan kita rezeki yang halal lagi berkah.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Naskah Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ، وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ، أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

رَبَّنَا ‌هَبۡ ‌لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَآ ءَاتِنَا ‌فِي ‌ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللَّهِ، إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Catatan:

Jika Anda ingin menyalin khotbah ini ke microsoft word untuk dicetak, Anda harus mendownload dan menginstall font KFGQPC HAFS Uthmanic Script agar teks Al-Quran dapat terbaca.