Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 2: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kaligrafi Al-Fatihah Ayat 2 Ar-Rahman Ar-Rahim

Pada materi kajian sebelumnya, telah kita pelajari bersama tafsir ayat satu dari surat Al-Fatihah. Pada ayat tersebut, kita mengetahui hakikat pujian kepada Allah dan kedudukan Allah sebagai Rabb semesta alam.

Nah, pada materi kajian kali ini, kita akan mengkaji tafsir ayat yang kedua dari surat Al-Fatihah dalam kitab “Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr” (أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير) yang ditulis oleh Syekh Abu Bakar bin Jābir Al-Jazāiri (w. 1439 H).

A. Teks dan Terjemahan QS. Al-Fatihah Ayat 2[1]

ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٢

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

B. Makna “Ar-Rahman Ar-Rahim”

Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri berkata:

تَقَدَّمَ شَرْحُ هَاتَيْنِ الْكَلِمَتَيْنِ فِي الْبَسْمَلَةِ. وَأَنَّهُمَا اسْمَانِ وُصِفَ بِهِمَا اسْمُ الْجَلَالَةِ "اللَّهُ" فِي قَوْلِهِ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ثَنَاءً عَلَى اللَّهِ تَعَالَى لِاسْتِحْقَاقِهِ الْحَمْدَ كُلَّهُ.

Penjelasan mengenai kedua kata ini telah berlalu pada pembahasan basmalah. Sesungguhnya keduanya merupakan dua nama yang menjadi sifat (penjelas) bagi nama keagungan yakni “Allah” dalam firman-Nya (yang artinya): “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, sebagai sanjungan kepada Allah ta’āla atas kelayakan-Nya untuk menerima segala bentuk pujian seluruhnya.

Penjelasan:

1. Makna “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim”

Pada materi kajian Tafsir Basmalah, telah dipaparkan penjelasan lengkap mengenai tafsir الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Telah dijelaskan pula bahwa Syekh Abu Bakar memilih pendapat yang dikuatkan oleh Imam Aṭh-Ṭhabari di mana basmalah bukan bagian ayat dari surat Al-Fatihah.

Bahkan, Imam Aṭh-Ṭhabari menjadikan ayat ini sebagai argumen yang kuat mengenai kelirunya pendapat yang menyatakan basmalah adalah ayat pertama. Andaikan basmalah adalah ayat pertama maka akan muncul pertanyaan:

  • Apa alasan pengulangan lafal الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ di ayat ini padahal Allah telah memuji diri-Nya sendiri dengan الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ pada بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ?

Beliau berpendapat bahwa kedekatan letak kedua lafal tersebut justru menjadi bukti kelirunya pendapat yang menyatakan bahwa basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah. Menurutnya, di dalam Al-Quran tidak ditemukan dua ayat yang berdampingan berulang dengan lafal dan makna yang sama persis tanpa adanya kalimat pemisah yang memadai. Jika basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah, maka kaidah ini akan terlanggar karena tidak adanya pemisah yang memadai. Dengan demikian, beliau juga tidak perlu repot-repot menjelaskan alasan pengulangan lafal tersebut di ayat ini.

Beliau juga menolak argumen yang menyatakan bahwa lafal الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ sebagai pemisah yang memadai. Kemudian, beliau memaparkan bantahannya dengan dalil logika bahasa Arab yang membuktikan kekeliruan argumen tersebut.[2]

2. Penyebutan “Ar-Rahman Ar-Rahim” Setelah “Rabbil-‘Ālamīn”

Setelah Allah subḥānahu wata’āla menyebut diri-Nya Rabbil-‘Ālamīn (Tuhan semesta alam) pada ayat yang pertama maka pada ayat selanjutnya Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-Rahman Ar-Rahim yang berarti Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat ini adalah ayat yang menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ayat ini merupakan sanjungan kepada Allah atas kelayakan-Nya untuk menerima segala bentuk pujian. Dengan kata lain, ayat ini sekaligus menjadi bukti atas kelayakan-Nya menerima segala bentuk pujian.

Selain itu, ayat ini juga berfungsi sebagai targhīb (motivasi) setelah tarhīb (ancaman). Imam Al-Qurṭhubi menjelaskan bahwa:

  • Lafal رَبِّ الْعَالَمِينَ (Tuhan semesta alam) mengandung unsur tarhīb (ancaman) yang membangkitkan rasa takut akan kekuasaan-Nya
  • Sementara lafal الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) mengandung unsur targhīb yang membangkitkan harapan akan kasih sayang-Nya

Susunan ayat dengan targhīb (motivasi) dan tarhīb (ancaman) ini adalah hal yang umum dalam Al-Quran. Di antara contohnya dapat kita jumpai pada ayat berikut ini:

إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ١٦٥

Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[QS. Al-An’ām (6): 165]

  • Lafal إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ adalah tarhīb (ancaman) yang membangkitkan rasa takut akan azab-Nya.
  • Sedangkan lafal وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ adalah targhīb (motivasi) yang membangkitkan rasa harap akan ampunan dan kasih sayang-Nya.

Penyebutan ayat yang mengandung unsur targhīb dan tarhīb ini dapat menyeimbangkan antara harapan dan rasa takut bagi siapa pun yang membacanya atau mendengarnya bila disertai dengan tadabur.

Dengan demikian, perpaduan antara rasa takut dan harapan kepada-Nya menjadi penolong yang paling kuat bagi seorang hamba untuk menaati-Nya sekaligus menjadi tameng yang paling kokoh untuk mencegah dirinya dari kemaksiatan.[3]

Referensi Kitab

  • Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr oleh Abu Bakar bin Jābir Al-Jazāiri
  • Jāmi’ul-Bayān ‘an Ta'wīli Āyil-Qurān oleh Ibnu Jarīr Aṭh-Ṭhabari
  • Al-Jāmi’ li Aḥkāmil-Qurān oleh Al-Qurṭhubi

[1] Ayat dua jika الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ dianggap sebagai ayat pertama.

[2] Lihat: Ibnu Jarīr Aṭh-Ṭhabari, Jāmi’ul-Bayān ‘an Ta'wīl Āyil-Qurān, cet. 1, (Kairo: Dār Hajar, 1422 H/2001 M), jilid 1, hlm. 147-149

[3] Al-Qurṭhubi, Al-Jāmi’ li Aḥkāmil-Qurān, cet. 2, (Kairo: Dārul-Kutub Al-Miṣhriyyah, 1384 H/1964 M), jilid 1 hlm. 139