Tauhid Uluhiyyah: Pengertian dan Dalil-dalil Hanya Allah Yang Berhak Disembah

Kaligrafi Kalimat Tauhid Uluhiyyah yang Indah

Pada materi kajian sebelumnya, telah kita pelajari bersama bahwa konsekuensi dari tauhid rubūbiyyah adalah tauhid ulūhiyyah. Artinya, jika seseorang mengakui rubūbiyyah Allah maka ia juga harus mengakui ulūhiyyah-Nya. Percuma jika ia mentauhidkan Allah dalam rubūbiyyah-Nya namun tidak dengan ulūhiyyah-Nya.

Lantas, apa yang dimaksud dengan tauhid ulūhiyyah itu sendiri? Apa dalil-dalil yang membuktikan bahwa seseorang harus mentauhidkan Allah dalam ulūhiyyah-Nya? Nah, pada materi kajian kali ini, kita akan pelajari bersama apa itu tauhid ulūhiyyah dan apa saja dalil-dalil yang membuktikan wajibnya mentauhidkan Allah dalam ulūhiyyah-Nya.

A. Pengertian Tauhid Ulūhiyyah

Al-Ulūhiyyah (الأُلُوهِيَّةُ) berasal dari kata Al-Ilah (الإله), yang berarti Dżāt yang disembah dan juga ditaati. Al-Ilah adalah salah satu nama Allah yang Indah (Asmāul-Husna), sedangkan Al-Ulūhiyyah adalah salah satu sifat Allah yang Agung.

Allah subḥānahu wata’āla adalah Al-Ma'lūh (Tujuan pengabdian) dan Al-Ma’būd (Dżāt yang disembah), yang mana hati wajib mengabdi, tunduk, merendah, dan patuh kepada-Nya. Dia adalah Rabb yang Maha Agung, Pencipta alam semesta ini, Pengatur segala urusannya, yang disifati dengan segala kesempurnaan, dan disucikan dari segala kekurangan.

Oleh karena itu, kerendahan hati dan ketundukan tidak selayaknya diberikan kecuali kepada-Nya. Hanya Dia yang berhak untuk diesakan dalam ibadah bukan selain-Nya, tidak ada seorang pun yang disekutukan bersama-Nya dalam ibadah kepada-Nya karena hanya Dialah yang menciptakan, memulai, dan mengembalikan (kehidupan) tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Maka dari itu, makna tauhid ulūhiyyah adalah mengesakan Allah semata dalam ibadah. Hal itu dilakukan oleh seorang hamba dengan cara mengetahui dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah semata adalah Al-Ma'lūh (Tujuan pengabdian) dan Al-Ma’būd (Dżāt yang disembah) secara hakiki, dan bahwasanya sifat-sifat ketuhanan (ulūhiyyah) beserta maknanya tidaklah ada pada satu pun makhluk dan tidak ada yang berhak memilikinya kecuali Allah subḥānahu wata’āla.

Jika seorang hamba telah mengetahui hal tersebut dan mengakui hal itu dengan sebenar-benarnya, maka ia akan mengesakan Allah dalam seluruh ibadahnya, baik yang lahiriah maupun yang batiniah.

Dengan demikian, tatkala ia melaksanakan syariat-syariat Islam yang lahiriah seperti: salat, zakat, puasa, haji, amar makruf nahi munkar, berbakti kepada orang tua, dan menyambung tali silaturahmi maka ia akan melakukannya dengan tujuan hanya mencari rida Tuhannya dan mengharap pahala-Nya semata.

Demikian pula tatkala melaksanakan pokok-pokok (iman) yang bersifat batiniah: mulai dari iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk maka ia akan melakukannya dengan tujuan hanya mencari rida Tuhannya dan mengharap pahala-Nya semata.

B. Dalil-dalil Bukti Ulūhiyyah Allah

Terdapat berbagai bukti dan dalil yang saling berpadu dan menguatkan satu sama lain akan wajibnya mentauhidkan Allah dalam ulūhiyyah-Nya. Dalil-dalil tersebut sangat bervariasi bentuknya, ada yang berupa perintah, penjelasan, keutamaan, dan lain sebagainya baik di dalam Al-Quran maupun Al-Hadis:

1. Dalil-dalil dari Al-Quran

Pertama, tauhid ulūhiyyah adalah perintah Allah kepada seluruh manusia:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

[QS. Al-Baqarah (2): 21]

۞ وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

[QS. An-Nisā' (4): 36]

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia

[QS. Al-Isrā' (17): 23]

Kedua, tauhid ulūhiyyah adalah asas dari keberadaan makhluk dan tujuan diciptakannya jin dan manusia:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

[QS. Adż-Dżāriyāt (51): 56]

Ketiga, tauhid ulūhiyyah adalah tujuan diutusnya para Rasul:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!”

[QS. An-Naḥl (16): 36]

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.

[QS. Al-Anbiyā' (21): 25]

Keempat, tauhid ulūhiyyah adalah tujuan diturunkannya kitab-kitab ilahi:

يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ ٢

Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu atas perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu (dengan berfirman), “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku) bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, bertakwalah kepada-Ku.”

[QS. An-Naḥl (16): 2]

Kelima, besarnya balasan bagi orang yang bertauhid serta apa yang dipersiapkan bagi mereka berupa pahala yang besar dan nikmat yang mulia di dunia dan akhirat:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.

[QS. Al-An’ām (6): 82]

Keenam, peringatan terhadap lawan dari tauhid (syirik), menjelaskan bahayanya bertentangan dengan tauhid, serta menyebutkan azab pedih yang telah disiapkan oleh-Nya bagi yang meninggalkannya:

إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ٧٢

Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.

[QS. Al-Māidah (5): 72]

وَلَا تَجۡعَلۡ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتُلۡقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومٗا مَّدۡحُورًا ٣٩

Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah).

[QS. Al-Isrā' (17): 39]

Dan masih ada bentuk-bentuk variasi dalil lainnya yang meliputi penetapan tauhid, dakwah kepadanya, sanjungan atas keutamaannya, penjelasan pahala bagi pelakunya, serta besarnya bahaya menyelisihinya.

2. Dalil-dalil dari Al-Hadis

As-Sunah An-Nabawiyah juga dipenuhi dengan dalil-dalil mengenai tauhid ini dan urgensinya, di antaranya:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ. قَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ.

Dari Mu’ādż bin Jabal raḍhiyallāhu ‘anhu ia berkata: Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Mu’ādż, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya?”

Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: “Hak-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Tahukah engkau apa hak para hamba atas Allah?”

Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: “Hak mereka adalah Allah tidak akan mengazab mereka (selama mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya).”

[HR. Bukhari no. 7373]

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ، قَالَ لَهُ: إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ تَعَالَى، فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ...

Dari Ibnu Abbās raḍhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Ketika Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’ādż ke Yaman, beliau bersabda kepadanya: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah mengenal (menerima) hal itu, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka salat lima waktu...”

[HR. Bukhari no. 7372]

وَعَنْ ابِنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ. وَقُلْتُ أَنَا: مَنْ مَاتَ وَهُوَ لَا يَدْعُو لِلهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Dari Ibnu Mas’ūd raḍhiyallāhu ‘anhu, bahwa Rasulullah ṣhallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah kepada tandingan selain Allah maka ia masuk neraka.”

[HR. Bukhari no. 4497]

وَعَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ

Dari Jābir bin Abdullāh raḍhiyallāhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menemui Allah (wafat) dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia masuk surga. Barang siapa yang menemui-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.”

[HR. Muslim no. 93]

Dan hadis-hadis dalam bab ini sangatlah banyak.

Referensi

  • Uṣhūlul-Īmān fi Ḍhauil-Kitābi was-Sunnah oleh Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam - KSA